Pentingnya Ilmu Genetik dan Epigenetik dalam Dunia Kedokteran
Pada kurun waktu setengah abad terakhir, peningkatan pengetahuan dasar terkait prosedur terjadinya penyakit telah menghasilkan kemajuan yang sangat pesat dalam bidang kedokteran. Riset biomedik yang cepat dan mendalam untuk mengetahui prosedur timbulnya penyakit belakangan ini sudah menstimulasi pengembangan metode dan teknologi buat tujuan diagnostik serta terapi dan pencegahan timbulnya penyakit.
salah satu ilmu dasar yang menunjang pengetahuan tentang patogenesis penyakit adalah Genetika, yaitu ilmu yang mempelajari penurunan sifat atau karakter suatu mahluk hidup berdasarkan materi hereditas yang dimilikinya.
Materi hereditas yang dimaksud ialah gen, yaitu molekul asam nukleat pada bentuk DNA (asam deoksiribosa nukleat), yang sebagai bahan cetakan untuk pembentukan protein. Hal ini dijelaskan oleh Prof. Dr.rer.nat., Dra. Asmarinah, M.Si yang merupakan guru besar Ul bidang llmu biologi Kedokteran pada pidato pengukuhannya sebagai pengajar akbar pada Sabtu (20/4) pada Aula IMERI FKUI,Kampus Salemba
beliau memaparkan pidato berjudul “Arah Perkembangan Kedokteran di Masa Depan: berasal Pasangan Basa Nitrogen di Gen ke Pelayanan pada tempat tinggal Sakit”. Selain ilmu Genetik, menurut Asmarinah, ilmu Epigenetik pun berperan penting terhadap timbulnya suatu penyakit. Epigenetik merupakan ilmu yang mempelajari perubahan karakter individu karena adanya modifikasi-modifikasi berasal molekul asam nukleat, protein histon yang mengemas DNA, yang semua itu bisa mempengaruhi jumlah protein yang didapatkan.
“Modifikasi-modifikasi tersebut disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti terpapar yaindividu dengan bahan kimia serta adanya sumber makanan tertentu yang dapat memodifikasi molekul-molekul tersebut,” jelasnya.
Asmarinah kemudian mengungkapkan bahwa ada tiga prosedur epigenetik yang bisa menghipnotis proses ekspresi gen, yaitu 1) Metilasi DNA pada basa nitrogen sitosin (C); dua) modifikasi molekul histon dengan penambahan gugus/senyawa metil, asetil, fosfat, serta ubiquitin; 3) terbentuknya micro RNA (miRNA). Ketiga prosedur tersebut memengaruhi kuantitas dari produk aktualisasi diri gen, yaitu molekul protein. Metilasi (penambahan gugus metil, CHs yang dibantu oleh enzim DNA metiltransferase/DNMT) bisa terjadi pada nukleotidasitosin (C) yang selalu berdekatan dengan nukleotida guanin (G).
pada masa yang akan datang, pengobatan penyakit pada pasien harus memperhatikan profil genetik dan epigenetik yang dimilikinya, sehingga personalized medicine atau precision medicine, merupakan hal yg seharusnya menjadi perhatian kita semua yang bergerak dalam bidang kedokteran serta kesehatan,” tutur Prof. Asmarinah.
Gabung dalam percakapan